Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MATERI KEBUGARAN JASMANI KELAS 8 SMP



MEMAHAMI KEBUGARAN JASMANI

Kesegaran jasmani (physical fitness) merupakan salah satu aspek fisik dari kesegaran menyeluruh (total fitness). Kesegaran jasmani memberikan kesanggupan kepada seseorang untuk melakukan pekerjaan produktif sehari-hari tanpa adanya kelelahan berlebihan dan masih mempunyai cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggangnya dengan baik maupun melakukan pekerjaan yang mendadak.

 Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut.

• Masalah kesehatan, seperti keadaan kesehatan, penyakit menular dan menahun.

• Masalah gizi, seperti kurang protein, kalori, gizi rendah dan gizi yang tidak memadai.

• Masalah latihan fisik, seperti usia mulai latihan, frekuensi latihan per minggu, intensitas latihan, dan volume latihan.

• Masalah faktor keturunan, seperti anthropometri dan kelainan bawaan.

 Seseorang dapat dikatakan memiliki kebugaran jika mempunyai ciri

(a) daya tahan jantung/peredaran darah dan paruparu,

(b) kemampuan adaptasi biokimia, seperti: jumlah enzym-enzym dalam darah dan konsentrasi asam laktat dalam plasma darah,

(c) bentuk tubuh,

(d) kekuatan otot,

(e) tenaga ledak otot,

(f) daya tahan otot,

(g) kecepatan,

(h) kelincahan,

(i) kelentukan,

(j) kecepatan reaksi, dan

(k) koordinasi.

 

Mencapai kebugaran jasmani yang baik, peserta didik perlu mengetahui beberapa hal berikut agar latihan yang dilakukan benar–benar bermanfaat untuk dirinya.

a. Jenis Latihan

Jenis latihan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Namun, untuk mendapatkan kesegaran fisik seutuhnya, komponen-komponen kesegaran jasmani harus dilatih secara seimbang. Selain itu, pilihlah jenis latihan yang mudah dan murah, seperti lari/jogging dan jalan kaki.

b. Volume Latihan

Berlatih kesegaran jasmani, selain atlet, diperlukan waktu minimal 20 menit, tidak termasuk waktu untuk pemanasan atau pendinginan.

c. Frekuensi Latihan

Untuk mencapai kesegaran jasmani yang diinginkan, latihan sebaiknya lebih sering dilakukan. Latihan 5 kali seminggu tentunya memberikan efek lebih baik daripada latihan 2 kali seminggunya. Untuk seseorang selain atlet, latihan 3 kali seminggu dirasakan cukup. Meskipun demikian,latihan 4 kali atau 5 kali seminggu memberikan hasil sedikit lebih baik.

d. Intensitas Latihan

Untuk menentukan intensitas latihan, khususnya untuk perkembangan daya tahan kordiovaskuler, dapat diterapkan Teori Katch dan Meardle. Mula-mula hitung frekuensi Denyut Nadi Maksimal (DNM) dengan rumus. DNM = 220 – UMUR

Untuk menentukan DNM seorang siswa yang berumur 13 tahun dapat menggunakan rumus berikut.

DNM = 220 – umur = 220 – 13 = 207

Jadi, nadi maksimal siswa yang berumur 13 tahun adalah 207 denyut nadi per menit.

Selanjutnya, ukur tekanan intensitas latihannya. Untuk latihan, seseorang selain atlet sekitar 70-85% dari 100% dengan lama latihan 20-30 menit.

Jadi, jika digunakan intensitas yang 70%, denyut nadi maksimalnya adalah:

DNM = 220 – umur x 70% = 220 – 13 x 70% = 207 x 70/100 = 145 denyut nadi per menit

 

Konsep Unsur-unsur Kebugaran Jasmani

Kekuatan dan Daya Tahan Otot

Kekuatan otot adalah kemampuan sekelompok otot melawan beban dalam suatu usaha, misalnya kemampuan otot lengan mengangkat kursi, sedang daya tahan otot adalah kemampuan sekelompok otot melakukan serangkaian kerja dalam waktu lama, misalnya kemampuan otot lengan dan tungkai untuk memindahkan kursi dari satu tempat ke tempat lain dalam jangka waktu yang lama. Ciri latihan untuk kekuatan otot digunakan beban berat dengan ulangan sedikit, sedangkan untuk daya tahan otot digunakan beban ringan dengan ulangan banyak. Takaran latihan untuk meningkatkan kekuatan dan daya tahan otot diperlukan frekuensi latihan 3 kali/minggu, dengan intensitas daya tahan 70% dan kekuatan 80 — 100%).

 

Kelenturan Persendian

Kelenturan persendian adalah kemampuan persendian untuk bergerak secara luas menurut bidang geraknya. Ciri latihan untuk kelenturan persendian, gerak meregang persendian dan mengukur otot hingga batas tertentu dalam jangka waktu tertentu.

Takaran latihannya adalah sebagai berikut.

1. Frekuensi latihan dapat dilakukan setiap hari.

2. Intensitas merupakan batas rasa nyeri. Artinya, pada saat meregang persendian, akan terjadi reaksi tubuh berupa tegangan otot. Jika diteruskan, akan terasa nyaman. Oleh karena itu, intensitas yang dianjurkan untuk kelenturan adalah pada batas akhir tegangan otot dan batas awal munculnya rasa nyeri.

3. Durasi (time) waktu yang diperlukan untuk peregangan bergantung pada ukuran persendian, biasanya berkisar 4 — 30 detik dan dilakukan 1 — 3 x ulangan untuk setiap persendian.

 

Daya Tahan Paru-Paru dan Jantung

Daya tahan paru dan jantung adalah kemampuan fungsional paru dan jantung menyuplai oksigen untuk kerja otot dalam waktu yang lama. Kualitas daya tahan paru dan jantung dinyatakan dengan VO2 max, yakni banyak oksigen maksimal yang dapat dikonsumsi dalam satuan Ml/Kg BB/menit. Ciri latihan untuk daya tahan paru-paru dan jantung, geraknya melibatkan otot-otot besar, model latihannya seperti berjalan dan berlari, gerakannya kontinu-ritmis, model latihannya seperti bersepeda atau jogging dengan kecepatan tertentu. Olahraga permainan (voli, tenis atau bulutangkis), tetap kurang dianjurkan, dan sifat gerakannya aerobik, yakni gerakan yang dilakukan pada intensitas sedang dan diukur dengan kenaikan detak jantung latihannya, seperti lari dengan kecepatan sedang.

Adapun takaran latihannya, sebagai berikut .

1. Frekuensi untuk mendapat kebugaran paru dan jantung, latihan dilakukan secara teratur 3 — 5 kali/minggu

2. Intensitas, 75 — 85% dari detak jantung maksimal. Durasi setiap berlatih dilakukan selama 20 — 60 menit tanpa berhenti.

 

Bentuk Aktivitas Latihan

Kekuatan dan Daya Tahan

Dalam melakukan bentuk latihan kekuatan dapat dilakukan tiga prinsip dasar, yaitu : 1) bergerak (move), yaitu rangkaian gerak dinamis yang dilakukan secara berulang-ulang dalam jangka waktu tertentu, seperti: jogging, senam aerobik, bersepeda, berenang dan lain-lain, 2) mengangkat (lift), rangkaian gerak melawan beban, seperti: mengangkat, mendorong, menarik beban baik berat tubuh sendiri maupun beban dari suatu benda, seperti: dambel, barbell, bola medicine dan lain- lain, yang model latihannya seperti: weight training, kalestenik (push-up, backup, chin-up, sit-up dan lain-lain, dan 3) meregang (stretch), rangkaian gerak mengulur otot dan meregang persendian, jenis latihan ini sangat berguna untuk meningkatkan kelenturan persendian dan kelenturan otot.

Berikut bentuk-bentuk latihannya

1. Kekuatan dan Daya Tahan Otot Lengan, Dada dan Bahu,dengan Push Up

2. Kekuatan dan Daya Totot Perut, dengan Sit Up

3. Kekuatan dan Daya Tahan Otot Punggung, dengan Back Up

 Kekuatan dan Daya Tahan Anggota Badan Bagian Bawah

1. Aktivitas Naik Turun Bangku (Boks) dengan Cara Kaki Satu Per Satu Naik dan Turun Bangku

2. Aktivitas Naik Turun Bangku (Boks) dengan Menggunakan Kaki Satu Per Satu Sambil Kedua Memegang Bola di Atas Kepala

3. Aktivitas Naik Turun Bangku (Boks) dengan Melompat Menggunakan Kedua Kaki

 Kelincahan Anggota Badan Bagian Bawah

1. Aktivitas Bermain Lompat Ban yakni ban bekas(Mobil, atau Sepeda Motor) di bariskan secara zigzag 5 buah

2. Aktivitas Bermain Lari Jikjak yakni Kerucut atau kun di bariskan 5 buah

 Kelenturan

1. Aktivitas Meluruskan Kedua Kaki rapat Sambil Duduk Saling Menarik Handuk Berpasangan,secara berpasangan

2. Aktivitas Meluruskan Kedua Kaki terbuka lebar Sambil Duduk Saling Menarik Kedua Tangan, secara berpasangan

 

Aktivitas Pengukuran Kebugaran

Petunjuk Pelaksanaan Tes

1. Lari 50 meter

a. Tes ini bertujuan untuk mengukur kecepatan

b. Alat dan fasilitas: 1) Lintasan lurus, datar, rata, tidak licin, berjarak 50 meter, dan masih mempunyai lintasan lanjutan, Bendera start, 2) Peluit, 3) Tiang pancang,4) Stopwatch, 5) Serbuk kapur, 6) Formulir, 7) Alat tulis

c. Petugas tes: 1) Juru keberangkatan, 2) Pengukur waktu merangkap pencatat hasil

d. Pelaksanaan:

1) Sikap permulaan: peserta berdiri di belakang garis start.

2) Gerakan: a) pada aba-aba “Slap” peserta mengambil sikap start berdiri, siap untuk Iari , b) pada aba~aba “Ya” peserta Iari secepat mungkin menuju garis finish, menempuh jarak 50 meter.

3) Lari masih bisa diulang apabila: (a) pelari mencuri start, (b) pelari tidak me-lewati garis finish, (c) pelari terganggu dengan pelari yang lain.

4) Pengukuran waktu: pengukuran waktu dilakukan dan saat bendera diangkat sampai pelari melintasi garis finish.

e. Pencatat hasil

1) Hasil yang dicatat adatah waktu yang dicapai oleh pelari untuk menempuh jarak 50 meter, dalam satuan waktu detik.

2) Waktu dicatat satu angka di belakang koma.

 

2. Tes Gantung Angkat Tubuh Untuk Putera dan Tes Gantung Siku Tekuk untuk Putri.

a. Tes gantung angkat tubuh 60 detik untuk putera:

1) Tujuan: tes ini bertujuan untuk mengukur kekuatan dan ketahanan otot tengan dan otot bahu

2) Alat dan fasilitas: (a) Lantai rata dan bersih, (b) palang tunggal yang dapat diatur tinggi rendahnya sesuai dengan peserta. (c) stopwatch, (d) serbuk kapur atau magnesium karbonat, (e) alat tulis.

3) Petugas tes: (a) pengamat waktu, (b) penghitung gerakan merangkap pencatat hasil

4) Pelaksanaan: (a) sikap permulaan : peserta berdiri di bawah palang tunggal Kedua tangan berpegangan pada palang selebar bahu. Pegangan telapak tangan menghadap ke arah letak kepala.

5) Gerakan: (a) mengangkat tubuh dengan membengkokan kedua lengan, sehingga dagu menyentuh atau berada di atas palang tunggal, kémudian kembali ke sikap permulaan. Gerakan ini dihitung satu kali, (b) selama melakukan gerakan, mulai dari kepala sampai ujung kaki tetap merupakan satu garis lurus, (c) gerakan ini dilakukan berulang-ulang, tanpa istirahat, sebanyak mungkin, selama 60 detik.

6) Angkatan dianggap gagal dan tidak dihitung apabila; (a) pada waktu mengangkat badan ada gerakan mengayun, (b) pada waktu mengangkat badan posisi dagu lebih rendah dari palang tunggal dan; (c) pada waktu kembali ke sikap permulaan kedua lengan tidak lurus.

7) Pencatatan hasil: (a) yang dihitung adalah angkatan yang diIakukan dengan sempurna, (b) yang dicatat adalah jumlah (frekuensi) angkatan yang dapat dilakukan dengan sikap sempurna tanpa istirahat selama 60 detik, (c) peserta yang tidak mampu melakukan tes angkatan tubuh ini, walaupun telah berusaha, diberi nilai 0 (nol).

 

b. Tes gantung siku tekuk, untuk putri

1) Tujuan: tes ini bertujuan untuk mengukur kekuatan dan ketahanan otot lengan dan otot bahu.

2) Alat dan fasilitas terdiri dari: (a) lantai rata dan bersih, (b) palang tunggal yang dapat diatur tinggi rendahnya sesuai dengan peserta. (c) stopwatch, (d) serbuk kapur atau magnesium karbonat, (e) alat tulis.

3) Petugas tes: pengukur waktu merangkap pencatat hasil.

4) Pelaksanaan: Palang tunggal dipasang dengan ketinggian sedikit di atas kepala peserta.

5) Sikap permulaan: peserta berdiri di bawah palang tunggal, kedua tangan berpegangan pada palang tunggal selebar bahu. Pegangan telapak tangan menghadap ke arah kepala.

6) Gerakan: dengan bantuan tolakan kedua kaki, peserta meloncat ke atas sampai dengan mencapai sikap tergantung siku tekuk, dagu berada di atas palang tunggal.

7) Pencatatan hasil: Hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai oleh peserta untuk mempertahankan sikap tersebut di atas, dalam satu satuan waktu detik.

  

3. Baring duduk 60 detik

a. Tujuan: tes ini bertujuan untuk mengukur kekuatan. dan ketahanan otot perut.

b. Alat dan fasilitas: 1) lapangan rumput yang rata dan bersih, 2 stopwatch; 3) alat tulis; 4) alas / tikar/matras jika diperlukan.

c. Petugas tes

1) Sikap permulaan: berbaring terlentang di lantai atau rumput kedua lutut ditekuk dengan sudut ± 90°, kedua tangan kiri dan kanan diletakkan di samping telinga.

2) Petugas/peserta lain memegang atau menekan kedua pergelangan kaki agar kaki tidak terangka.

3) Gerakan: a) gerakan aba-aba “Ya” peserta didik bergerak mengambil posisi duduk sampai kedua sikunya menempel kedua paha, kemudian kembali pada posisi permulaan, b) gerakan ini dilakukan berulang-ulang dengan cepat tanpa istirahat, selama 60 detik.

Catatan:

(1) gerakan tidak dihitung jika tangan tidak berada di samping telinga.

(2) kedua siku tidak sampai menyentuh paha.

(3) mempergunakan sikunya untuk membantu menolak tubuh.

4) Pencatatan hasil: (1) hasil yang dihitung dan dicatat adalah jumlah gerakan baring duduk yang dapat dilakukan dengan sempurna selama 60 detik, (2) peserta yang tidak mampu melakukan tes baring duduk ini, diberi nilai 0 (nol).

4. Loncat Tegak

a. Tujuan: tes ini bertujuan untuk mengukur tenaga eksptosif

b. Alat dan fasilitas: 1) papan berskala sentimeter, warna gelap, berukuran 30 x 150 cm, dipasang pada dinding yang rata atau tiang. Jarak antara lantai dengan angka 0 (nol) pada skala 150 cm. 2) serbuk kapur, 3) alat penghapus papan tulis, 4) alat tulis

c. Petugas tes: pengamat dan pencatat hasil

d. Pelaksanaan

1) Sikap permulaan: a) terlebih dahulu ujung tangan peserta diolesi dengan serbuk kapur atau magnesium karbonat, b) peserta berdiri tegak dekat dinding, kaki rapat, papan skala berada di samping kiri atau kanannya. Kemudian, tangan yang dekat dinding diangkat lurus ke atas telapak tangan ditempelkan pada papan berskala sehingga meninggalkan bekas raihan jarinya.

2) Gerakan: a) peserta mengambil awalan dengan posisi menekukkan lutut dan kedua lengan diayun ke belakang. Kemudian peserta meloncat setinggi mungkin sambil menepuk papan dengan tangan yang terdekat sehingga menimbulkan bekas, b) lakukan tes ini sebanyak 3 kali tanpa istirahat atau diselingi oleh peserta lain.

e. Pencatatan hasil

1) Selisih raihan loncatan dikurangi raihan tegak

2) Ketiga selisihan raihan dicatat

3) Ambil nilai tertinggi

5. Lari 1.000 meter untuk putra, dan 800 meter untuk putri

a. Tujuan: tes ini bertujuan untuk mengukur daya tahan jantung peredaran darah dan pernapasan.

b. Alat dan fasliltas: 1) lintasan lari 1.000 meter untuk putra dan 800 meter untuk putri; 2) stopwatch; 3) bendera start; 4) peluit; 5) tiang pancang; 6) alat tulis.

c. Petugas tes: 1) petugas keberangkatan; 2) pengukur waktu; 3) pencatat hasil; 4) pembantu umum.

d. Pelaksanaan

1) Sikap permulaan: peserta berdiri di belakang garis start.

2) Gerakan:

a) Pada aba-aba “SlAP”, peserta mengambil sikap start berdiri untuk lari.

b) Pada aba-aba “YA”, peserta langsung menuju ganis finish menempuh jarak 1.000 meter.

Catatan:

(1) Lari diulang bilamana ada pelari mencuri start

(2) Lari diulang bilamana pelari tidak melewati garis finish

e. Pencatatan hasil: 1) pengambilan waktu dilakukan dan saat bendera diangkat sampai pelari tepat melintasi garis finish , 2) hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai oleh pelari untuk menempuh jarak 1000 meter. Waktu dicatat dalam satuan dan detik.

Contoh penulisan:

Seorang pelari dengan hasil waktu 3 menit 12 detik ditulis 3”12”.


Posting Komentar untuk "MATERI KEBUGARAN JASMANI KELAS 8 SMP"